avatar
Lusi Laksita Alfatkhu

A wordsmith and English Literature graduate specializing in Linguistics. With over two years of experience, now working as an SEO Specialist—optimizing articles to be both discoverable and readable.

Dipublikasikan pada: Rabu, 18 Februari 2026

Suka Buat Fansub? Tambah Skill Ini Agar Jadi Translator Profesional

 

Tahukah Anda bahwa hobi menerjemahkan drama Korea, anime, atau film favorit sebagai fansubber bisa ditingkatkan menjadi profesi yang menjanjikan? Apa yang awalnya hanya dilakukan karena suka-suka, sebenarnya bisa menjadi pintu masuk menuju karier di industri penerjemahan.

 

Banyak translator profesional saat ini justru berawal dari membuat subtitle secara sukarela. Tapi, antara fansubber dan translator profesional, tentu ada perbedaan, baik dari segi tanggung jawab, kualitas, maupun keterampilan yang dibutuhkan.

 

Dalam artikel ini, kita akan membahas apa saja perbedaan utama antara fansubber dan translator profesional, serta skill penting yang perlu Anda kuasai jika ingin naik level dan menjadikan hobi ini sebagai karier profesional. Yuk, simak sampai habis!

 

Perbedaan Fansubber dan Translator Profesional

 

Meskipun memiliki tugas yang hampir mirip, namun jika dilihat lebih dalam, keduanya memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan,di antaranya seperti:

 

1. Kreativitas & Adaptasi Budaya

 

Dikutip dari Artlangs, fansubber biasanya sering kali menambahkan creative flourishes seperti istilah slang, catatan budaya, pilihan warna subtitle, atau catatan penjelasan. Hal ini dapat dimengerti karena umumnya fansubber bekerja di luar sistem industri formal, sehingga tidak terikat oleh standar penyiaran, pedoman klien, atau aturan gaya bahasa baku. 

 

Inilah yang memberi mereka ruang untuk bermain dengan bentuk bahasa, humor, dan ekspresi. Mereka bisa menggunakan meme, emoji, atau bahkan footnotes di subtitle untuk menjelaskan konteks budaya yang mungkin asing bagi penonton.

 

Di sisi lain, translator profesional juga melakukan adaptasi budaya, namun dalam koridor yang lebih terukur dan profesional. Mereka harus menyesuaikan humor, idiom, atau referensi budaya asing agar dapat dipahami oleh audiens lokal, tanpa mengganggu pengalaman menonton.

 

Misalnya, alih-alih mempertahankan istilah asing dan menambahkan penjelasan, translator profesional akan mengganti lelucon atau ungkapan dengan padanan lokal yang setara secara makna dan dampak emosional. Mereka juga tidak menggunakan warna subtitle sembarangan, karena hasil kerja mereka harus sesuai dengan standar penyiaran dan kenyamanan visual.

 

2. Fansubber Lebih Fokus pada Komunitas Niche/Komunitas Tertentu

 

Sebagian besar fansub dibuat oleh penggemar, untuk penggemar. Artinya, fansubber sangat mengenal audiens mereka, biasanya sesama penikmat anime, K-drama, atau konten pop culture lainnya. 

 

Karena itu, gaya penerjemahan mereka sering disesuaikan dengan selera komunitas tersebut. Misalnya, penggunaan istilah Jepang seperti "senpai", "baka", atau "tsundere" kadang sengaja dipertahankan karena fans sudah familiar dan bahkan menyukainya.

 

Hal ini jelas berbeda dengan penerjemah profesional yang menerjemahkan konten untuk audiens yang lebih luas. Audiens dari penerjemah profesional tidak hanya mencakup komunitas tertentu saja, tapi juga dari berbagai kalangan usia dan latar belakang budaya. Inilah mengapa, gaya penerjemahannya lebih netral, mudah dipahami, dan inklusif. 

 

Misalnya, jika ada istilah asing seperti “senpai”, penerjemah profesional akan menerjemahkannya sesuai konteks dan dilokalkan, misalnya diartikan sebagai “kakak kelas” agar bisa lebih dimengerti oleh penonton awam yang tidak familiar dengan budaya Jepang.

 

Selain itu, translator profesional juga harus mempertimbangkan standar bahasa baku, pedoman gaya dari klien, serta sensitivitas budaya. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa hasil terjemahan bisa diterima oleh audiens seluas mungkin, tanpa mengandalkan pengetahuan khusus atau kebiasaan komunitas tertentu.

 

3. Tujuan Penerjemahan

 

Fansubber tidak hanya ingin menyampaikan arti, tapi juga menjaga nuansa emosional, punchline, dan pengalaman asli dari kontennya. 

 

Misalnya, jika ada lelucon lokal khas Jepang atau Korea, fansubber cenderung mempertahankan bentuk aslinya dan menambahkan keterangan di atas layar agar penonton memahami konteksnya. Tujuannya adalah agar penonton tetap bisa menikmati rasa asli dari konten tersebut, meski perlu sedikit panduan. 

 

Sebaliknya, penerjemah profesional memiliki tujuan yang sedikit berbeda. Mereka bertugas menyampaikan makna dan efek yang sama dengan cara yang paling bisa dipahami oleh target audiens, tanpa mengganggu alur menonton.

 

Daripada menambahkan catatan panjang, mereka lebih memilih untuk melokalkan atau mengganti istilah asing atau lelucon budaya dengan padanan lokal yang memiliki dampak emosional serupa. 

 

Misalnya, jika dalam versi asli ada lelucon berdasarkan permainan kata yang sulit dipahami oleh penonton Indonesia, penerjemah profesional mungkin akan mengganti lelucon tersebut dengan bentuk lain yang sepadan secara humor atau makna, alih-alih mempertahankan bentuk aslinya dan menambah penjelasan.

 

Hal ini karena tujuan utama translator profesional adalah agar penonton lokal dapat menikmati konten seolah-olah konten tersebut memang dibuat untuk mereka, tanpa merasa asing atau bingung karena terlalu banyak penjelasan tambahan.

 

4. Kualitas Penerjemahan dan Tingkat Akurasi

 

Berbeda dengan fansub yang cenderung santai, penerjemah profesional memiliki proses kerja yang cukup berlapis, di antaranya seperti review pada draft pertama, penyuntingan tersertifikasi, pengecekan terminologi, hingga quality check akhir. 

 

Proses ini memastikan subtitle layak konsumsi untuk audiens luas dengan terminologi konsisten, timing tepat, dan tata letak sesuai standar industri, walau terkadang terasa kurang “hangat dengan pembaca/target audience” karena minim improvisasi .

 

Skill yang Harus Dimiliki Agar Menjadi Translator Profesional

 

Setelah memahami perbedaan antara fansubber dengan translator profesional, kini saatnya untuk mencari tahu apa saja skill yang harus dimiliki agar menjadi translator profesional. 

 

1. Penguasaan Lanjut Bahasa Asing & Target

Hal yang paling dasar untuk dimiliki oleh seorang translator profesional adalah pemahaman bahasa sumber dan target bahasa. Dengan begitu, ia akan mampu menangkap konteks, idiom, atau bahkan makna tersirat dari sebuah teks atau ucapan. 

 

2. Kemampuan Menyesuaikan Konteks dengan Bahasa Target

Sebagai penerjemah profesional, Anda harus bisa memastikan bahwa hasil terjemahan tersebut enak dibaca dan tidak kaku.

 Untuk meningkatkan kemampuan ini, Anda dapat membaca buku, melakukan peer review, atau mengikuti kursus penerjemah. 

 Di Pemad TTC, Anda bisa menemukan berbagai kursus translation yang dirancang untuk mengasah kemampuan ini. 

 Tentunya, kelas yang dipilih bisa disesuaikan dengan kemampuan Anda. Misalnya, kelas Level Dasar dan Standar A dirancang untuk membangun fondasi penerjemahan dan meningkatkan keterampilan menulis dalam bahasa target. 

 Jika Anda ingin memperluas cakupan ke bidang spesifik seperti hukum atau marketing, kelas Standar B menawarkan materi yang lebih teknis, termasuk pelatihan penggunaan CAT Tools

 Selain kelas reguler, PeMad TTC juga rutin mengadakan webinar dan workshop tematik, seperti pelokalan subtitle, penerjemahan situs web, hingga tren penggunaan AI dalam industri penerjemahan. 

Program-program ini dirancang untuk tidak hanya membekali Anda dengan keterampilan teknis, tapi juga wawasan industri yang dibutuhkan agar Anda bisa bersaing secara profesional.

 

3. Pengetahuan Budaya dan Konteks Mendalam

Menurut situs PacTranz, Untuk menghasilkan terjemahan yang relevan, Anda juga harus memahami aspek budaya dari kedua bahasa, mulai dari nilai, kebiasaan, hingga referensi populer. 

 Selain itu, seorang translator penerjemah juga harus mengerti istilah teknis hingga background konten. Untuk memperdalam hal ini, Anda dapat mencoba melakukan riset dengan glosarium, riset mandiri melalui Google, atau belajar di forum penerjemah. 

 

4. Prosedur Penerjemahan & Ulasan yang Sistematis

Seperti yang telah dibahas di atas, berbeda dengan fansubber mandiri, seorang penerjemah profesional memiliki prosedur kerja yang berlapis dan sistematis. Mulai dari penyerahan draft pertama, kemudian pengecekan untuk revisi, kemudian qualitty assurance, hingga final draft yang bisa dipublikasi.

 Demikianlah penjelasan seputar perbedaan fansubber dan penerjemah profesional. Dari penjelasan di atas, bisa kita lihat bahwa meskipun sama-sama menerjemahkan, namun fansubber dan translator profesional punya tanggung jawab dan standar yang berbeda. 

 Nah, jika Anda sudah terbiasa menjadi fansubber dan ingin naik level menjadi penerjemah profesional, kini saatnya bagi Anda membekali diri dengan skill yang lebih mendalam. Dengan PemadTTC, yuk mulai perjalanan Anda sebagai penerjemah profesional! 



Referensi:

https://www.pactranz.com/the-translator-skillset/ 

https://www.indeed.com/career-advice/resumes-cover-letters/skills-of-a-translator 

https://artlangs.com/news-detail/Fansubbing-vs--Professional-Translation--Who-Wins-the-Audience-s-Heart- 

 

Share Tags: